Bagaimana Hukum Memakai Kosmetik Ketika Shalat? Ini Jawabannya

Sebelum mengupas lebih jauh mengenai kosmetik, lebih baik mengulas lebih dahulu mengenai berdandan. Bagaimana kah hukum berdandan bagi wanita didalam Islam? Berikut ini adalah penjelasan dari Abdul Halim Abu Syuqqah didalam bukunya "Tahrirul Mar’ah fi ‘Ashrir Risalah" (Kebebasan Wanita).


Membuka wajah telah umum diperbuat pada zaman Rasulullah. Kondisi semacam ini adalah kondisi awalnya. Adapun memakai cadar jadi yang terkesan hanya kedua bola matanya sja, adalah salah satu tradisi alias tutorial berdandan yang menjadi trendi pada sebagian wanita sebelum dan setelah kedatangan Islam.

Berdandan secara wajar pada muka, keduabelah telapak tangan, serta pakaian yang diperbolehkan Islam dalam batas-batas yang patut dilakukan seorang muslimah. Muslimah tidak diharuskan mengikuti suatu model tertentu dalam berpakaian. Yang diwajibkan yakni menutupi aurat. Tidak lah berdosa jika mengikuti sejumlah mode sesuai kondisi cuaca dan lingkungan sosial. Kriteria diatas akan membantu muslimah untuk lebih leluasa dalam bergerak juga memudahkan dalam beraktifitas sosial.

Kemudian, tampil hebat dan cantik telah merupakan fitrahnya kaum hawa. Sejumlah wanita bahkan melakukan apapun demi penampilan yang luar biasa. Mulai dengan mengecat kuku sampaidengan mempertebal alis dengan maskara alias menggunakan alas bedak awet. Semua itu ternyata telah menjadi hal biasa bagi sebahagian kaum muslimah. Karena selain praktis, kosmetik water proof (tahan air) seringkali dipilih oleh kaum wanita  karena lebih awet. Namun, bagaimana hukumnya menurut Islam jika memakai kosmetik tersebut? Benarkah pemakaiannya membuat sipemakainya menjadikannya tidak sah wudhu'nya?

Bagaimana Hukum Memakai Kosmetik Ketika Shalat ? Ini Jawabannya !
Kembali lagi, tampil rapi sekaligus menarik dan indah luar biasa, pasti menjadikan aspek penting bagi kaum muslimah, tanpa terkecuali dandanan muslimah yang walau masih sesuai tuntunan syari’at, namun masih ingin tampil lebih dan luar biasa. Muslimah ingin berusaha memperindah riasan tubuhnya dengan berbagai cara termasuk kosmetik, mulai dari membuat lekukan bulu matanya hingga pulasan kuku agar tampil hebat dan berbeda. Apalagi untuk acara khusus yang menuntutnya tampil hebat dalam waktu yang lama, maka foundasi bedaknya merupakan salah satu produk kosmetik water proof alias kosmetik tahan air. Sebahagian wanita berpendapat bahwa wudhunya tetap sah karena merasa air wudhu' masih bisa membasahi anggota wudhu'nya. Tetapi benarkah begitu?

Mari kita teliti Apakah kosmetik water proof itu ?
Kosmetik tersebut merupakan sejumlah produk kosmetik mulai dari maskara, lipstik, dan kosmetik yang bahan dasarnya minyak silikon (silicon-based oil), yang disebut dengan dimethicone. Bahan tersebut membantu menjaga agar kulit tetap lembut. Selain itu, dapat pula membantu agar produk kosmetik tersebut mudah diserap oleh kulit serta rambut. Bahan-bahan tersebutlah yang membuat kosmetik water proof tak mudah terhapus.

selain dari itu, kosmetik water proof tergolong jenis air didalam minyak, yang berarti unsur minyaknya lebih besar daripada unsur airnya. Unsur minyak pada kosmetik water proof tersebut dapat menghalangi penetrasi air kepermukaan kulit. Oleh karena itu, untuk membersihkan kosmetik ini membutuhkan surfaktan, suatu bahan yang dapat mengurangi kontak minyak dengan kulit sehngga komestik water proof bisa dengan mudah dibersihkan. Pada umumnya, alat pembersih yang digunakan merupakan bahan dalam bentuk milk cleanser dan face tonic.

Mesikipun kosmetik tersebut mampu menjaga riasan seseorang muslimah tetap segar juga bersih, tetap saja memiliki sejumlah masalah kesehatan, namun bukan termasuk kosmetik yang berbahaya. Kosmetik jenis ini tidak dapat dihilangkan hanya dengan air, oleh karenanya dibutuhkan pelarut yang khusus untuk menghapusnya. Pelarut tersebut biasanya cukup keras sehingga dapat menghapusnya dari kulit. Apabila dihapus, kulit akan rentan terhadap infeksi, sinar matahari dan sejumlah masalah kesehatan kulit lainnya.

Bukan itu saja, kosmetik water proof itu tidak akan terhapus oleh air, dan ini menjadi masalah bagi muslimah bila berwudhu' karena sangat repot membersihkannya dengan mempergunakan pembersih khusus terlebih dulu. Sementara itu, penetrasi air kepermukaan kulit akan terhalang oleh kosmetik water proof tersebut. Penggunaan maskara yang tahan air pun dapat menghalangi air membasahi bulu mata.

Dari Uraian diatas, Bolehkah menurut syari’at Islam ?
Seringkali kita temukan juga dalam masyarakat, pada saat acara-acara tertentu seperti agenda pernikahan, wisuda, atau pesta, seorang muslimah malas untuk membersihkan lebih dulu make up yang dipakai sebelum ia berwhudu. Bukan hanya karena tidak praktis, tetapi lebih dikarenakan wanita ingin riasannya tersebut tetap hebat walau untuk melakukan shalat.

Dr. Isnawati Rais, MA, salah seorang Dosen ilmu hadits Fakultas Syari’ah, UIN Jakarta, menyatakan bahwa sampainya air wudhu merupakan syarat sahnya wudhu. Oleh karenanya, jika ada anggota wudhu yang tidak terkena air maka wudhu'nya tidaklah sah. Beliau menyatakan boleh saja memakai kosmetik water proof asalkan mau dibersihkan lebih dahulu sebelum berwhudu'. Menggunakan cat kuku, maskara, dan bedak water proof hanya akan menghalagi terbasuhnya air kepada anggota wudhu'.

Allah SWT berfirman didalam surat Al-Mu’minum  ayat ke-51, “Wahai umat manusia, sesungguhnya Allah merupakan thayyib (baik), tak akan menerima malainkan yang thayyib (baik dan halal); dan Allah memerintahkan kepada orang beriman segala apa yang Dia perintahkan kepada para rasul.

Setelah kita mempertimbangkan baik buruknya kosmetik water proof, alangkah baiknya kosmetik water proof digunakan pada sebagian acara khusus saja seperti  pernikahan, pesta dan agenda penting lainnya, ataupun sebaiknya mempergunakan maskara atau kosmetik water proof lainnya pada saat sedang haidh saja sehingga tidak perlu repot menghapusnya.

Sebagai seorang muslimah, wajib jeli didalam memilih jenis kosmetik. Jika ingin tampil hebat dan beda juga wajib mempertimbangkannya dari sisi syari’at Islam. Percuma saja tampil cantik dihadapan makhluk Allah namun jelek di mata Sang Pencipta karena melanggar syariatnya.

Dr.Muzammil H.Siddiqi, pernah Ia menjawab pertanyaan mengenai apakah boleh tidaknya seseorang muslimah menggunakan kosmetik. Pertama, di perbolehkan bagi seorang muslimah menggunakan kosmetik & lipstik utk mempercantik dirinya. Ia di perbolehkan shalat dengan memakai kosmetik asalkan ia memakainya setelah berwhudu. Namun, wajib dipastikan pula kosmetik yang digunakan itu tidak mengandung najis atau suatu yang tidak bersih & dilarang dalam Islam (zat/bahan haram).

Sebagian kosmetik bisa saja mengandung bahan dari babi dan itu diharamkan sehingga tidak boleh dipakai. Muslimah wajib memastikan telah mencuci anggota tubuh nya yang mesti dibasuhi dengan air wudhu' sebelum ia memakai lipstik atau kosmetik lainnya. Muslimah yang melalaikan persoalan wudhu' ini hanya karena tak ingin wudhu'nya itu merusak make up-nya maka ia telah berdosa.

Ingatlah sebaik-baiknya bahwa wudhu' merupakan aktivitas wajib agar bisa melaksanakan shalat, dan sunnah diluar shalat. Nabi Muhammad bersabda, “Shalat tidak diterima tanpa wudhu.” Apabila ada bagian tubuh yang semestinya dibasuh tetapi tidak dibasuh maka wudhu'nya tidak lengkap dan shalat yang dikerjakannya pun menjadi tak sah.

Kedua, meskipun muslimah diperbolehkan menggunakan lipstik dan kosmetik lain nya untuk mempercantik diri, namun semacam faktor lainnya dalam Islam sehingga inipun wajib selama tidak berlebih-lebihan. Terlalu banyak menggunakan kosmetik menghabiskan banyak uang dan waktu, begitu banyak tak diterima dalam sistem dan syariat Islam. Islam membimbing pengikutnya, baik laki-laki ataupun wanita, agar menjadi seorang yang bersikap tawadhu', sopan dan  sederhana.

Jika muslimah keluar dari rumahnya, khusus untuk agenda berkumpul bersama maka mereka harus lebih berhati-hati dengan penampilannya. Penampilannya wajib tidak terlihat pamer atau isyarat mengajak lelaki untuk mendekatinya. Mereka tetap saja boleh tampil sesuai dengan acara, cantik dan rapi, namun penampilannya tersebut harus tetap menjaga harga dirinya serta kehormatannya. Mereka juga wajib memelihara kesucian dirinya dan juga kesucian masyarakat disekitarnya.

Pastinya hal ini juga berlaku untuk muslimah yg sedang bersanding dipelaminan, dalam suatu walimah. Didaerah kita, seorang pengantin wanita yang telah jamak wajib berpenampilan tak sama di pelaminan. Memakai make up merupakan faktor yang wajar sekali. Merupakan agenda walimah tersebut bisa berlangsung lama, sementara make up perlu dipertahankan hingga upacara walimah usai. Akhirnya, wudhu' & shalat menjadi hal yang dikesampingkan.

Wahai kaum muslimah, jangan karena adanya upacara sekali seumur hidupmu, lantas kamu melalaikan ibadah shalatmu. Sesungguhnya, jalan keluar dalam ini amatlah mudah. Pertama, jika engkau tidak bisa memungkiri untuk tidak menggunakan make up yang tidak dapat dihapus hingga walimah usai, kamu wajib untuk mempertahankan wudhu'. Berwudhu'lah sebelum kamu di-make up & jagalah wudhu'mu jangan sampai batal sehingga waktu shalat tiba.

Kedua, solusi yang tetap bisa dilakukan adalah dengan mengadakan acara walimah ketika kamu mendapat jadwal bulanan/haidh. Ataupun, adakan lah acara walimah pada waktu-waktu yang tidak melewatkan waktu shalat. Umpamanya sejak pukul 10.00-13.00 WIB saja. Kamu tetap dapat melaksanakan shalat dzuhur dengan tanpa memusingkan untuk di-make up ulang.

[marwahislam.net]

close
close